admin

admin

cpns 2021

INFO CPNS

Pengumuman Jadwal SKD CPNS dan Seleksi Kompetensi PPPK Non Guru Kab.Alor T.A 2021...SELENGKAPNYA

Pengumuman Hasil Sanggah Seleksi Penerimaan ASN Pemkab Alor. T.A 2021

Lihat disini

 

Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Penerimaan ASN Pemkab Alor TA. 2021

Klik disini

cpns 2021

Verifikasi Administrasi Persyaratan Surat Tanda Registrasi (STR) selengkapnya

Perpanjangan Pendaftaran Seleksi Penerimaan Pegawai Aparatur Sipil Negara di Lingkungan Pemkab Alor TA 2021.

Cek disini

Penerimaan ASN Kab. Alor Tahun 2021. Sikahkan buka INFO CPNS, CPNS 2021

jokowi ajak perkokoh

JOKOWI AJAK SEMUA KOMPONEN PERKOKOH NILAI PANCASILA

Memperingati Hari Lahir Pancasila, 1 Juni 2021, Presiden RI, Joko Widodo memimpin langsung upacara yang dilaksanakan di Gedung Pancasila, Jakarta. Upacara kali ini berlangsung secara virtual dan diikuti oleh berbagai komponen, baik para Menteri Kabinet, Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), serta unsur Pemerintah Daerah baik Provinsi maupun Kabupaten di seluruh Indonesia.

Di Kabupaten Alor, kegiatan dipusatkan di Aula Rumah Jabatan Bupati Alor dan diikuti oleh Unsur Forum Komunikasi Pimpinan Daerah serta pimpinan OPD lingkup Pemkab Alor, dengan menggunakan busana daerah khas Alor.

Dalam sambutannya, Presiden Joko Widodo mengatakan bahwa walaupun Pancasila telah menyatu dengan masyarakat sejak bangsa ini berdiri, namun tantangan terhadap Pancasila semakin berat, terutama dengan berkembangnya teknologi komunikasi. Rivalitas ideologi trans nasional menurut Jokowi bisa merambah hingga pelosok negeri. Untuk itu dirinya berharap agar semua pihak bisa menggunakan cara – cara baru dan luar biasa untuk selalu menggelorakan semangat Pancasila.

“Walaupun Pancasila telah menyatu dalam kehidupan kita sepanjang Republik Indonesia ini berdiri, namun tantangan yang dihadapi Pancasila tidaklah semakin ringan. Globalisasi dan interaksi antar belahan dunia tidak serta merta meningkatkan kesamaan pandangan dan kebersamaan. Yang harus kita waspadai adalah meningkatnya rivalitas dan kompetisi, termasuk rivalitas antar pandangan, rivalitas antar nilai – nilai, dan rivalitas antar ideologi. Ideologi trans nasional cenderung semakin meningkat memasuki berbagai lini kehidupan masyarakat dengan berbagai cara dan berbagai strategi. Perkembangan Ilmu pengetahuan dan teknologi juga mempengaruhi landscape kontestasi ideologi. Revolusi Indusrti 4.0 telah menyediakan berbagai kemudahan dalam berdialog, dalam berinteraksi, dan berorganisasi dalam skala besar lintas Negara. Ketika konektivitas 5G melanda dunia maka interaksi antar dunia juga akan semakin mudah dan cepat. Kemudahan ini bisa digunakan oleh ideologi – ideologI trans nasional radikal untuk merambah ke seluruh pelosok Indonesia, ke seluruh kalangan, dan keseluruh usia, tidak mengenal lokasi dan waktu. Kecepatan ekspansi ideologi transnasional radikal bisa melampaui standart normal ketika memanfaatkan disterupsi teknologi ini. Saudara – saudara sebangsa dan setanah air, menghadapi semua ini perluasan dan pendalaman nilai – nilai Pancasila tidak bisa dilakukan dengan cara – cara biasa. Diperlukan cara – cara baru yang luar biasa. Memanfaatkan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, terutama revolusi industri 4.0, dan sekaligus Pancasila harus menjadi pondasi dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkeindonesiaan" ungkapnya.

Jokowi pada kesempatan tersebut juga mengajak semua komponen untuk bersatu padu dan bergerak aktif memperkokoh nilai Pancasila dalan mewujudkan Indonesia maju sesuai yang dicita – citakan.

“Saya mengajak seluruh aparat Pemerintahan, tokoh agama, tokoh masyarakat, para pendidik, kaum professional. Generasi muda Indonesia, dan seluruh rakyat Indonesia, untuk bersatu padu dan bergerak aktif memperkokoh nilai – nilai Pancasila dalam mewujudkan Indonesia maju yang kita cita – citakan”. (Seka)

satgas covid gelar tes massal

SATGAS COVID ALOR GELAR RAPID TES MASAL DI PESTA NIKAH

Untuk memutus mata rantai penyebaran covid19 di Kabupaten Alor, tim Satgas Covid19 Kabupaten Alor mengadakan rapid tes masal secara gratis pada sebuah acara pernikahan yang digelar di Desa Pante Deere, Kecamatan Kabola, Kabupaten Alor, pada Jumad (28/5).

Kapolsek Alor Tengah Utara, IPTU Onnan Ndolu, SH, mengatakan bahwa sebelumnya dirinya sudah membangun koordinasi dengan Penyelenggara Pesta dan Kepala Desa agar acara ini dilaksanakan dengan tetap mematuhi Protokol Kesehatan. Dirinya juga pada kesempatan tersebut menerjunkan tim untuk memantau langsung di lokasi kegiatan.

“Kemaren kami sudah lakukan koordinasi dengan penyelenggara pesta maupun Kepala Desa, kami dari gugus tugas Covid19 Kecamatan Kabola sudah melakukan koordinasi agar pelaksanaan acara perkawinan ini, resepsi pernikahan ini bisa dilaksanakan dengan tetap mematuhi protokol kesehatan. Oleh karena itu tadi kita sudah setting tempat duduknya sudah diatur sesuai dengan protokol kesehatan, dan tamu undangan yang akan mengikuti acara resepsi ini nanti akan dilakukan rappid tes antigen terlebih dahulu oleh petugas dari Dinas Kesehatan sehingga betul – betul tamu undangan yang masuk ini sudah bebas covid”.

Sekcam Kabola, Charles Bainkabel, SH, saat diwawancara turut membenarkan hal tersebut. Dirinya juga menghimbau agar kedepan jika ada warga masyarakat Kecamatan Kabola yang akan menggelar pesta pernikahan atau hajatan lainnya wajib meminta ijin kepada Satgas Covid19 tingkat Kabupaten, kemudian akan ditindaklanjuti pengawasannya oleh tim Satgas Kecamatan bersama Pemerintah Desa.

“Kalau ada pesta – pesta atau hajatan – hajatan lain yang harus buat kegiatan harus meminta ijin dulu ke Satgas sehingga kami juga langsung bisa turun dan mengecek persiapan – persiapan. Harus ada ijin ke Satgas Kabupaten baru nanti diteruskan ke Satgas Kecamatan, kami Satgas Kecamatan bersama Kapolsek, Danposramil, dan juga dari Desa, kita sama – sama untuk mempersiapkan semua ini” ujar Bainkabel.

Berkaitan dengan jumlah alat rapid yang disediakan, Penanggungjawab Laboratorium Puskesmas Mebung, Dian Adiana Dakahamapu, AMAK, mengatakan bahwa Puskesmas Mebung telah menyiapkan 100 unit rapid antigen gratis.

“Kami diutus dari Puskesmas Mebung ke tempat disini Pante Deere, kami menyiapkan 100 rapid yang disiapkan. Itu termasuk dengan jumlah tamu undangan yang datang. Jadi semoga tamu undangan yang datang tidak melebihi rapid yang disediakan, karena dari kami hanya menyediakan 100 rapid saja”.

Sementara itu mewakili pihak Keluarga, Nixonths Asamau, mengungkapkan bahwa nantinya panitia akan menghimbau kepada tamu undangan yang datang agar terlebih dahulu melakukan rapid tes baru masuk ke tenda yang disiapkan.

“Sebelum tamu undangan datang ataukah mereka sudah datang akan disampaikan supaya mereka tahu bahwa sebelum masuk teng resepsi harus dirapid tes supaya kita bisa tahu kita punya kondisi sekarang, apa, jangan sampai kita juga terinveksi oleh virus itu”. (Seka)

pemda alor bantu kebutuhan pokok lansia

PEMDA ALOR BANTU KEBUTUHAN POKOK BAGI LANSIA DI ALSEL

Untuk memperingati Hari Lansia tingkat Kabupaten Alor tahun 2021 yang ke-25, Pemerintah Kabupaten Alor memberikan bantuan kepada 50 lansia di Kecamatan Alor Selatan.

Kepala Bagian Kesejahteraan Rakyat Setda Alor, Yunindiawati, SS, mengatakan bahwa bantuan yang diberikan berupa beras 25 kg, gula pasir 2 kg, dan minyak goreng 2 liter.

“Untuk program tahunan untuk peringati HUT Lansia, dari Bagian Kesra selalu memberikan santunan kepada lansia – lansia di beberapa kecamatan. Untuk tahun ini memperingati HUT lansia ke-25 tahun 2021, peringatan HUT Lansia tingkat Kabupaten Alor, Bagian Kesra memberikan santunan berupa makanan pokok yaitu beras 25 kg, gula 2 kg dengan minyak 2 liter untuk 50 lansia di Kecamatan Alor Selatan” kata Yunindiawati.

Selain memberikan bantuan kebutuhan pokok, Pemerintah juga pada kesempatan tersebut memberikan pelayanan kesehatan secara gratis kepada masyarakat. Hal ini disampaikan langsung oleh Kepala Puskesmas Apui, Adriana Palloan, S.Km.

“Ini dalam rangka ulang tahun Lansia kita dari Puskesmas Apui turut berpartisipasi lewat pelayanan Kesehatan. Ini memang kegiatan dilakukan dari Kesra Setda, kami orang Puskesmas, orang kesehatan terbeban untuk berbagi juga melalui pelayanan kesehatan” demikian papar Palloan.

Sementara itu Mesak Faley, salah satu masyarakat yang mendapat bantuan pada kesempatan tersebut mengucapkan terima kasih kepada Pemerintah Daerah karena sudah memberikan perhatian kepada Lansia, khususnya di Kecamatan Alor Selatan.

“Kami dari Lansia mengucapkan terima kasih banyak kepada Pemerintah Daerah membantu kami dalam bantuan berupa beras dan lain – lain” ungkap Faley.

Bupati Alor, Drs. Amon Djobo, dalam sambutannya mengatakan bahwa bantuan ini diberikan sebagai bentuk penghargaan dan sebagai tanda hormat Pemerintah atas doa dan dukungan para lansia kepada Pemerintah Daerah. (Seka)

pencipta logo alor

KISAH SANG PENCIPTA LOGO PEMDA ALOR

Tahukah anda bahwa logo Pemerintah Kabupaten Alor baru muncul pada tahun 1974 ?

Adalah Ekber Laubase, otak di balik terciptanya logo Pemda Alor tersebut.

Dikisahkan oleh Laubase bahwa sebelum tahun 1974 Pemda Alor belum memiliki logo, dan atas pertimbangan dari Pdt. Domini Adang kepada Bupati Alor saat itu, Drs. Umbu Pekujdawang, maka diselenggarakanlah sayembara pembuatan lambang daerah. Dan pada saat itu Ekber Laubase bersama 30 peserta lainnya mengikuti lomba tersebut, dan dirinya akhirnya keluar sebagai juara.

“Sebelum dibawah dari tahun 1974 seluruh Kabupaten punya logo, lambang daerah, tetapi Kabupaten Alor tidak ada, tidak ada lambang daerahnya, sehingga atas inisiatif dan masukan dari bapak Almarhum, Bapak Pendeta Domini Adang ke Bupati, waktu itu Bupati S. Pekudjawang, Drs. S. Pekudjawang, menjabat sebagai Bupati, dia usulkan supaya diupayakan Kabupaten Alor harus ada lambang daerahnya, sehingga tatkala ini masukan diterima baik oleh Bupati lalu Bupati keluarkan pengumuman lalu ditempel di seluruh tempat. Lalu di situ isi pengumuman itu, Sayembara Lambang Daerah Kabupeten Alor, dengan berbagai persyaratan, hampir 30 nomor. Dan setelah saya pulang waktu itu saya kerja di Perusahan Daerah Mutiara Harapan, waktu saya pulang ada pengumuman tempel di pohon, saya baca itu saya catat, saya catat bawa ke rumah, terus saya tanya, ini sayembara lambang daerah ini yang model bagaimana, terus Bapak Boling Almarhum, menjelaskan bahwa itu lambang daerah ini di Alor tidak ada jadi suruh kasi masuk gambar. Jadi dalam persyaratan itu gambar itu dengan syaratnya ada melambangkan Pancasila dari dalam, dan juga ciri khas daerah Alor harus ada di dalam dan beberapa kriteria lainnya. Dan lambang daerah itu disitu ditentukan bersegi lima. Dari situ maka saya juga tidak tahu segi lima seperti apa, saya harus lihat lambang di tentara punya baju, setelah itu baru saya mulai gambar. Saya gambar lalu di dalamnya selain ciri lima Pancasila, ada bintang, padi, kapas, beringin, di situ juga dicantumkan Moko, ada Mesbah, ada Gudang, itu yang ada di bawah pohon beringin itu. Jadi kami yang peserta itu hampir 30 orang” demikian penjelasan lengkap dari Laubase.

Disampaikan olehnya juga setelah semua peserta memasukan hasil gambarnya pada tanggal 30 Juli 1074, panitia sayembara baru mengumumkan peserta yang juara pada tanggal 17 Agustus 1974, bertepatan dengan perayaan HUT RI.

“Setelah kami kasi masuk itu, ketentuan dari pendaftaran itu ditutup tanggal 30 Juli 1974. Setelah itu 17 Agustus 1974, setelah upacara diumumkan lomba – lomba, juara – juara lomba, lomba desa, dan yang keluar pertama itu lomba sayembara lambang daerah Kabupaten Alor. Maka dibacakan nama, saya keluar sebagai juara satu lambang daerah Kabupaten Alor”. Ujarnya.

Beberapa logo yang termuat dalam lambang daerah menurut Laubase tidak saja melambangkan tentang keindonesiaan tetapi juga memperkenalkan tentang budaya dan adat istiadat orang Alor.

“Gambar – gambar yang tertera di dalam lambang daerah, urutan pertama sesuai dengan persyaratan itu melambangkan Pancasila maka ada bintang, ada padi kapas, ada beringin. Nah untuk ciri khas adat orang Alor, setiap pembicaraan apapun berupa adat, harus ada di atas bale – bale adat. Kalau di Alor pada umumnya di bawah gudang, makanya ada gudang adat, ada mesbah, itu yang ada tersusun naik. Lalu Moko itu salah satu mas kawin orang Alor yang terkenal, itu yang melambangkan harkat dan martabat perempuan Alor yang harus saya taruh, dan juga sebagai alat untuk baik perang, berburu dan seterusnya, itu busur dengan anak panah. Oleh karena dalam gambar ini ruangan tidak bisa, maka hanya ada anak panah yang ada memsisahkan antara merah dengan putih itu, itu bukan tombak, karena kita orang Alor tombak sulit kita pakai. Hanya anak panah itu yang ada melintang menjadi, membagi dua gambar ini, dua warna ini. Itu anak panah, bukan tombak” pukasnya.

Dikisahkan juga oleh Laubase bahwa media gambar yang digunakan olehnya pada saat itu adalah spidol warna serta kertas karton dengan ukuran yang sudah ditentukan oleh Panitia.

“Waktu gambar itu setelah saya pakai spidol yang ada jual berapa warna itu. Waktu itu memang bahan – bahan tidak ada. Di gambar diatas kertas gambar, yang sekarang nama apa itu, karton, dengan ada ukuran. Jadi saya gambar pakai spidol warna yang biasa, sesudah itu baru saya kasi masuk. Ternyata saya keluar sebagai juara satu”

Sebagai peserta yang memperoleh juara 1, pada masa itu dirinya berhak mendapatkan uang tunai Rp 10.000 juga Surat Keputusan Bupati Alor tentang pemenang lomba, Menurutnya, untuk juara 2 memperoleh uang tunai Rp 7.500, dan juara lainnya semuanya tertuang di SK.

“Waktu itu dalam SK sudah dimuat, juara satu Rp 10.000, juara dua Rp 7.500, dan seterusnya ada di dalam SK termuat”.

Menurut Laubase, selama ini pernah ada beberapa pihak yang mengklaim bahwa dirinya sebagai pencipta lambang daerah Alor, namun mereka tidak mempunyai bukti yang cukup.

“Setelah itu tinggal punya tinggal, satu media itu menyatakan bahwa ternyata lambag daerah diciptakan oleh seorang Putera Flores, maka Permenas Koly tidak terima baik dia langsung bel, karena nomornya ada, dia langsung bel, saya ini waktu SMA, saya tinggal dengan Ketua DPRD, Kostan Gorang, saya tahu bahwa yang menciptakan lambang daerah juara satu waktu itu Bapak Ekber Laubase, masih hidup. Akhirnya beliau bel di saya, saya bel itu orang, saya bilang you dengan saya di meja hijau. Akhirnya ini orang minta maaf. Saya bilang, siapa yang kasi tahu, bilang dia dapat narasumber dari orang tertentu. Orang tertentu waktu itu balita, dia tahu apa. Saya tidak mau sebut dia punya nama”.

Laubase melanjutkan bahwa bahkan dalam sebuah upacara pemakaman, pernah terjadi peristiwa dimana keluarga menyebut bahwa almarhum adalah pencipta lambang daerah, namun lagi – lagi mereka tidak mempunyai bukti yang cukup.

“Pernah ada orang meninggal dalam riwayat hidup orang ada lapor bahwa ada baca bahwa dia pencipta lambang daerah, terus bukti ada di mana. Kita bukan hanya ambil – ambil saja. Kami ditentukan lewat panitia sayembara yang menyeleksi kami punya gambar, maka saya keluar sebagai juara satu”. (Seka)

  •  Start 
  •  Prev 
  •  1  2  3  4  5  6  7  8  9 
  •  Next 
  •  End 
Page 1 of 9