Profil Daerah

Profil Daerah (8)

Sambutan

     Salam Persatuan,

     Dalam nuansa Alor Bersatu, kami menyapa bapak ibu untuk bergabung bersama kami pada Website Resmi Pemerintah Kabupaten Alor. Kami berharap     bahwa website ini akan menjadi media komunikasi yang dapat menyatukan kita semua. Melalui media ini juga Pemerintah dapat bertegur sapa dengan rakyatnya, khusunya rakyat Kabupaten Alor atau setiap elemen yang peduli dengan keberlangsungan pembangunan di Kabupaten Alor. Melalui media ini juga kita dapat memperkenalkan Kabupaten Alor kepada masyarakat Indonesia dan masyarakat dunia pada umumnya. Kami merasa mustahil membangun Nusa Kenari dengan kemampuan kami sendiri, oleh karena itu kami sangat terbuka menyambut uluran tangan semua pihak atau calon investor untuk berpartisipasi dalam setiap momentum membangun Nusa Kenari tercinta ini. Sekian, Terima Kasih

Iklim

Iklim yang tidak menentu di Kabupaten Alor merupakan masalah yang cukup klasik. Dalam setahun musim penghujan relatif lebih pendek dari pada musim kemarau.

Pada tahun 2011 temperatur udara terendah adalah 17,7 º C yang terjadi pada bulan Agustus sedangkan temperatur tertinggi adalah 33,7 º C pada bulan Desember. Curah hujan tertinggi adalah 328,8 mm pada bulan Januari lebih rendah dari tahun sebelumnya. Semua ukuran adalah untuk kota Kalabahi, ibukota Kabupaten Alor, yang dapat dijadikan gambaran umum untuk Kabupaten Alor.

Rata-rata Temperatur Udara Dan Rata-Rata Penyinaran Matahari
Di Kota Kalabahi Dirinci Perbulan
Tahun 2011

ulan Rata rata Penyinaran Temperature
Max Min Rata-rata
01. Januari 44 30,8 23,4 27,1
02. Februari 53 30,8 23,1 26,9
03. Maret 54 31 22,8 26,9
04. April 67 30,9 22,6 26,9
05. Mei 84 31,1 20,4 26,5
06. Juni 94 30,7 17,7 25
07. Juli 89 30,7 18,9 25,1
08. Agustus 97 30,7 18,7 25,1
09. September 97 31,6 20,3 27,1
10. Oktober 96 33,3 23,6 29,3
11. Nopember 92 33,4 24,7 29,7
12. Desember 65 33,7 25 29,3

Persentase Penyinaran Matahari di Kota Kalabahi Dirinci per Bulan
2007 – 2011 (%)

Bulan

2007

2008

2009

2010

2011

01. Januari

60

63

60

51

44

02. Februari

60

36

47

63

53

03. Maret

59

68

82

74

54

04. April

75

79

91

81

67

05. Mei

90

80

81

72

84

06. Juni

74

84

97

79

94

07. Juli

93

90

88

72

89

08. Agustus

82

96

93

86

97

09. September

94

97

96

88

97

10. Oktober

95

91

94

66

96

11. Nopember

84

74

86

76

92

12. Desember

56

45

51

52

65

Rata-Rata Temperatur Udara di Kota Kalabahi per Bulan
2007 – 2011 (Derajat Celcius)

Bulan 2007 2008 2009 2010 2011
01. Januari 28,3 27,6 25,5 27,5 27,1
02. Februari 27,8 26,7 26,8 27,5 26,9
03. Maret 27 26,5 27,2 27,7 26,9
04. April 27,4 27,1 28,2 27,6 26,9
05. Mei 27,3 27,1 27,4 27,5 26,5
06. Juni 27 26,2 26 26,4 25,6
07. Juli 25 26 25,9 26,2 25,1
08. Agustus 26 26,6 25,8 26,6 25,1
09. September 26,9 27,8 27,6 28 27,1
10. Oktober 29 29,3 28,8 28,2 29,3
11. Nopember 29,8 29,9 29,6 29 29,7
12. Desember 29 28,1 28,4 27,7 29,3

Curah Hujan di Kota Kalabahi per Bulan
2008 – 2011 (mm)

ulan 2008 2009 2010 2011
01. Januari 174,7 235,1 355,7 328,8
02. Februari 231,3 395,2 283,5 216,7
03. Maret 193,3 153,7 139,2 277,9
04. April 63,3 72,7 190,5 145,2
05. Mei 11,8 2,5 105,9 55,5
06. Juni 152 39,5 50,1 5,8
07. Juli 12,5 - 7 4,7
08. Agustus 29,7 9,5 34,1 -
09. September - 0,8 42 -
10. Oktober 94 4,8 84,7 9
11. Nopember 41 59,5 73,9 88,4
12. Desember 226,5 327 277,9 47,4

Flora Fauna

Pohon Kenari, nama latinnya Canarium sp, merupakan tanaman identitas Kabupaten Alor, dengan pertimbangan bahwa keberadaan pohon dimaksud, sangat terancam dan hampir punah. Perlu upaya pelestarian dan pengembangan.

Pohon kenari yang banyak tumbuh di Kabupaten Alor, memiliki kegunaan baik pohon/kayu untuk bangunan dan buahnya bisa dijadikan sebagai bahan makanan dan bumbu kue. Oleh karena kekhasannya dan jumlahnya cukup banyak, sehingga Alor dijuluki Kabupaten “NUSA KENARI”. Disamping Pohon Kenari, tanaman khas lainnya, adalah sejenis mangga yang buahnya besar dan sangat manis rasanya. Satu buah besar bisa mencapai 1 kg. pohon mangga yang satu ini hanya tumbuh di Kabupaten Alor. Sedangkan untuk ditanam di daerah lain, buahnya akan menjadi lebih kecil.

Sedangkan fauna yang ada di Kabupaten Alor, adalah rusa atau menjangan. Oleh karena terus diburu dan ditembak, fauna ini mulai langka, dan karenanya dijadikan maskot untuk dipelihara, dibudayakan dan dilestarikan, sesuai dengan PP nomor 7 tahun 1999, tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa

Kondisi laut Alor pada umumnya masih bagus. Beberapa indikator penting mengenai hal ini antara lain adalah
Tutupan lamunnya bahkan mencapai 86 % di Pulau Lapang.
Luas tutupan karang hidup di Pulau-pulau Kecil berkisar antara 10 % hingga 90 %. Tutupan karang yang sedemikian bagus membuat kondisi ikan karang dan makrobentosnya sangat bagus pula.
Di Pulau Ternate jumlah kelimpahan ikan mencapai 1.650 ekor per 25 m2, demikian pula kondisi makrobentosnya, di Pulau Buaya kelimpahannya mencapai 64 individu per 25 m2.
Kondisi tutupan dan kelimpahan yang baik juga terlihat pada ekosistem mangrove. Hutan mangrove di pulau Kangge dijumpai di Teluk Bulu Waeloro (artinya : teluk yang ada air) dengan luasan panjang sekitar 1 km dan ketebalan sekitar 300 mete

Geografis

Kabupaten Alor merupakan salah satu kabupaten di Propinsi Nusa Tenggara Timur yang terletak di bagian timur laut. Kabupaten Alor terdiri dari tiga pulau besar dan enam pulau kecil yang saat ini ada penghuninya.  Secara astronomis, Kabupaten Alor terletak antara :

  • Timur : 125º - 48º Bujur Timur
  • Barat : 123º - 48º Bujur Timur  
  • Utara : 8º - 6º Lintang Selatan  
  • Selatan : 8º - 36º Lintang Selatan.

Secara astronomis, Kabupaten Alor terletak antara:

Timur : 125º - 48º Bujur Timur

Barat : 123º - 48º Bujur Timur

Utara : 8º - 6º Lintang Selatan

Selatan : 8º - 36º Lintang Selatan.

Berdasarkan wilayahnya, batas-batas Kabupaten Alor adalah:

Timur : Pulau-pulau di Maluku.

Barat : Selat Lomblen Lembata

Utara : Laut Flores

Selatan : Selat Ombay dan Timor Leste

Alor yang memiliki luas 2.864,64 Km2 terdiri dari 17 Kecamatan. Secara geografis, kondisi daerah ini merupakan daerah pegunungan tinggi yang dikelilingi oleh lembah-lembah dan jurang-jurang. 63.94 % dari wilayah di Kabupaten Alor merupakan daerah dengan kemiringan lebih dari 40º

Luas Wilayah Kabupaten Alor menurut Kecamatan
Tahun 2011

Kecamatan

Luas Wilayah

Km2

Hectar

Persentase

01. Pantar 

110,84

11.084

3,87

02. Pantar Barat 

66,92

6.692

2,34

03. Pantar Timur 

124,46

12.446

4,34

04. Pantar Tengah 

293,72

29.372

10,25

05. Pantar Barat Laut 

158,59

15.859

5,54

06. Alor Barat Daya 

438,81

43.881

15,32

07. Mataru 

106,18

10.618

3,71

08. Alor Selatan 

194,27

19.427

6,78

09. Alor Timur 

576,42

57.642

20,12

10. Alor Timur Laut 

199,26

19.926

6,96

11. Pureman 

128,85

12.885

4,5

12. Teluk Mutiara 

65,89

6.589

2,3

13. Kabola 

76,73

7.673

2,68

14. Alor Barat Laut 

104,85

10.485

3,66

15. Alor Tengah Utara 

117,33

11.733

4,1

16. Lembur 

73,99

7.399

2,58

17. Pulau Pura 

27,53

2.753

0,96

Alor

2.864,64

286.464

100

Banyaknya Pulau yang Dihuni menurut Nama,
Jumlah Kecamatan dan Desa, serta Luas
Tahun 2011

Pulau

Banyaknya Kec.

Banyaknya Desa

Luas (Ha)

P. Besar

1.  Alor

11

120

193232

2.  Pantar

5

43

85880

3.  Pura

1

6

2816

P. Kecil

1.  Ternate

-

2

416

2.  Buaya

-

1

224

3.  Nuha Kepa

-

-

32

4.  Tereweng

-

1

384

5.  Kura

-

1

24

6.  Kangge

-

1

1584

Banyaknya Pulau yang Tidak Dihuni menurut Nama, Letak dan Luas
Tahun 2011

Pulau

Kecamatan

Desa

Luas (Ha)

Kambing

Pantar Barat

Kayang

224

Rusa

Pantar Barat

Kayang

1.024,00

Watu Manu

Pantar Barat

Kayang

-

Batu Bawa

Pantar Barat

Kayang

-

Batu Ille

Pantar Barat

Kayang

-

Batang

Pantar Barat

Baraler

288,25

Lapang

Pantar Barat

Baraler

256

Ikan Ruing

Alor Barat Laut

Adang

-

Sika

Kabola

Kabola

80

Kapas

Teluk Mutiara

Welai Timur

0.15

Nubu

Kabola

Kabola

-

 

 

Topografi

Jenis tanah di Kabupaten Alor temasuk Vulkanik muda sehingga kaya unsur hara dengan struktur tanah yang gembur dan subur. Solum tanah sedang sampai dalam, sehingga tanah lebih stabil dengan kemampuan menahan air tinggi dan dapat diusahakan berbagai jenis tanaman.

Kondisi geografi Kabupaten Alor berkonfigurasi bergunung-gunung dan memberikan variasi iklim yang berbeda dan sangat menguntungkan bagi daerah dan rakyat dalam pengembangan tanaman produksi.

Keadaan topografi wilayah ini adalah:

Kemiringan diatas 40 derajat: 64,25%
Kemiringan 15–40 derajat: 25,61%
Kemiringan 3–15 derajat: 8,69%
Kemiringan 0–3 derajat: 3,45%

Sebagian besar terdiri dari tanah pegunungan yang tinggi yang dibatasi oleh lembah dan jurang yang cukup dalam yang merupakan hambatan umum sarana komunikasi/arus lalu lintas kendaraan baik darat maupun laut. Daerah Kabupaten Alor mempunyai ketinggian antara 6 – 1700 meter dari permukaan laut.
Keadaan geomorfologi daerah Kabupaten Alor sebagian besar yaitu 64,25 % dari luas wilayah merupakan gunung dan berbukit-bukit, dengan kemiringan diatas 40 % seluas 183.993,83 Ha, kemiringan 15 – 40 % seluas 67.691,44 Ha. Jenis tanah di Kabupaten Alor secara umum terdiri dari jenis tanah litosol, dan batu vulkanis lainnya.

Kabupaten Alor termasuk dalam daerah dengan keadaan iklim semiarid sehingga terjadi pergantian musim yang periodenya tidak seimbang, yaitu musim hujan yang singkat selama 3–5 bulan dan musim kemarau yang panjang 7-8 bulan. Jumlah curah hujan tertinggi terjadi pada bulan maret setiap tahunnya, yaitu sebesar 153 mm. Selama musim hujan distribusi hujan tidak merata disetiap wilayah kecamatan. Kenaikan curah hujan yang terjadi pada bulan Maret yang cukup deras dan lama biasanya dapat menimbulkan banjir pada areal yang berupa cekungan.

Kondisi tanah yang berkoefisien alir tinggi atau kurang resapan akibat berkurangnya flora karena penebangan atau terbakarnya hutan yang dapat mengakibatkan terkikisnya lapisan humus yang pada gilirannya dapat mengurangi kesuburan tanah.

Berdasarkan sumbernya maka potensi sumber daya air dibedakan atas tiga jenis yaitu air hujan, air permukaan, dan air tanah. Akibat rendahnya jumlah curah hujan dengan hari hujan dan intensitas yang bervariasi menyebabkan bentang alam Kabupaten alor menjadi relatif kering dan sangat mempengaruhi keadaan air tanah dan mempengaruhi debit air permukaan (sungai dan danau), yang menyebabkan daerah ini sangat terbatas untuk pertanian.

Sungai-sungai yang berada di Kabupaten Alor mengalir ke arah utara dan selatan dan bermuara di Laut Flores, Selat Ombai dan Teluk Kalabahi. Jumlah sungai yang ada adalah sebanyak 22 sungai juga terdapat 5 buah danau. Pada umumnya sungai-sungai yang ada mempunyai panjang sungai yang pendek dan sempit. Wilayah Alor mempunyai dua Daerah Aliran Sungai (DAS) yaitu :

DAS Adwer di Kecamatan Alor Barat Daya
DAS Lembur yang daerahnya menyebar ke empat kecamatan yaitu Kecamatan Alor Barat Daya, Alor Selatan, Perwakilan Alor Barat Laut dan Perwakilan Alor Timur.

Potensi air tanah yang meliputi air tanah dangkal, air tanah dalam (aquifer) dan mata air. Potensi air tanah di Kabupaten Alor termasuk yang sangat rendah (very low). Jumlah mata air yang dipakai untuk sumber mata air sebanyak 2 mata air yang terdapat di Kecamatan Alor Barat Laut, sumber mata air tersebut berfungsi melayani kebutuhan air bersih penduduk dan dikelola oleh PAM Kabupaten Alor. Perkiraan ketersediaan air tanah di Kabupaten Alor adalah sebesar 56.318.036 m3/tahun.

Arti Logo

Lambang Daerah Kabupaten Alor ditetapkan dengan Peraturan Daerah Nomor 9 Tahun 1975 yaitu, sebagai berikut :

ms icon 310x310
Lambang Daerah berbentuk lukisan “Perisai Segi Lima” dan didalam lukisan Perisai Segi Lima terdapat :

  • Pohon Beringin dan Mesbah,
  • Rumah Adat dan Moko,
  • Pohon Beringin dan Mesbah, Rumah Adat dan Moko dilingkari oleh Untaian Padi, Kelopan dan Bunga Kapas pada ujung-ujung untaian padi dan kelopak serta bunga kapas terdapat Bintang persegi lima serta pangkal-pangkalnya terdapat : tiga lilitan dan pita terbentang dengan tulisan Kabupaten Alor. Panah yang ditempatkan agak melintang memisahkan warna dasar perisai merah Biru.


Lambang dengan tata warna sebagai berikut :

  • Perisai Segi Lima berwarna dasar merah dan biru bergaris pinggir tebal warna hitam.
  • Mesbah berwarna Putih Hitam
  • Beringin Hijau tua dan Pohon berwarna Coklat Tanah.
  • Panah berwarna Hitam.
  • Rumah Adat berwarna Coklat Tua.
  • Moko berwarna Hitam.
  • Untaian Padi berwarna Kuning.
  • Kelopak Kapas berwarna Hijau dan Bunga Kapas berwarna Putih.
  • Bintang Bersudut Lima berwarna Kuning Emas.
  • Pita terbentang berwarna Putih dan Garis Hitam pada pinggir bagian atas.
  • Tiga lilitan tali berwarna Hitam.

Arti Lambang dan Warna 

  • Perisai Segi Lima berwarna dasar merah biru dengan garis pinggir tebal berwarna hitam melukiskan Jiwa Nasionalis masyarakat Kabupaten Alor yang suci dan berani dimana segala usaha ditujukan untuk kepentingan Nasional yang berlandaskan filsafah Pancasila dalam satu kesatuan wawasan Nusantara serta hakekat kesuburan Kabupaaten Alor.
  • Pohon Beringin berwarna hijau tua dengan batang berwarna coklat tanah dan Mesbah berwarna putih hitam yang tidak terpisahkan mencerminkan perlindungan hidup seutuhnya dalam kehidupan rohani dan jasmani dalam ruang lingkup Kabupaten Alor.
  • Rumah Adat berwarna coklat tua dan Moko berwarna hitam juga tidak dapat diartikan secara terpisah-pisah dimana rumah adat temapat simpan benda-benda pusaka dari suatu suku mencerminkan tanda sejarah dan kebudayaan serta bernilai ekonomis.
  • Bintang bersudut lima berwarna kuning emas mencerminkan Ketuhanan Yang Maha Esa berdasarkan falsafah Pancasila yang luhur dan Agung.
  • Panah yang ditempatkan agak melintang memisahkan warna merah dahn biru mencerminkan jiwa dinamika rakyat Kabupaten Alor pada Laut dalam Nusa Tenggara Timur.
  • Untaian padi 20 bunga kapas 12, mesbah susunan batunya berurutan dari atas ke bawah :tebal lurus = 1, deretan batu = 9, deretan batu = 5, deratan batu = 8, melambangkan hari tanggal dan tahun lahirnya Kabupaten Alor yakni 20 Desember 1958.
  • Pita terbentang berwarna putih tertulis Kabupaten Alor dalam warna hitam.
  • Tiga lilitan tali berwarna hitam pada pangka-pangkal untaian padi dan kelopak serta bunga kapas mencerminkan Pulau Alor, Pulau Pantar dan pulau-pulau kecil disekitarnya yang bersatu padu dalam persatuan perjuangan.

Sejarah

Menurut ceritra yang beredar di masyarakat Alor, kerajaan tertua di Kabupaten Alor adalah kerajaan Abui di pedalaman pegunungan Alor dan kerajaan Munaseli di ujung timur pulau Pantar. Suatu ketika, kedua kerajaan ini terlibat dalam sebuah Perang Magic. Mereka menggunakan kekuatan-kekuatan gaib untuk saling menghancurkan. Munaseli mengirim lebah ke Abui sebaliknya Abui mengirim angin topan dan api ke Munaseli. Perang ini akhirnya dimenangkan oleh Munaseli.

Konon, tengkorak raja Abui yang memimpin perang tersebut saat ini masih tersimpan dalam sebuah goa di Mataru. Kerajaan berikutnya yang didirikan adalah kerajaan Pandai yang terletak dekat kerajaan Munaseli dan Kerajaan Bunga Bali yang berpusat di Alor Besar. Munaseli dan Pandai yang bertetangga, akhirnya juga terlibat dalam sebuah perang yang menyebabkan Munaseli meminta bantuan kepada raja kerajaan Majapahit, mengingat sebelumnya telah kalah perang melawan Abui

.2

Sekitar awal tahun 1300-an, satu detasmen tentara bantuan kerajaan Majapahit tiba di Munaseli tetapi yang mereka temukan hanyalah puing-puing kerajaan Munaseli sedangkan penduduknya telah melarikan diri ke berbagai tempat di Alor dan sekitarnya. Para tentara Majapahit ini akhirnya banyak yang memutuskan untuk menetap di Munaseli, sehingga tidak heran jika saat ini banyak orang Munaseli yang bertampang Jawa. Peristiwa pengiriman tentara Majapahit ke Munaseli inilah yang melatarbelakangi disebutnya Galiau (Pantar) dalam buku Negarakartagama karya Empu Prapanca yang ditulisnya pada masa jaya kejayaan Majapahit (1367). Buku yang sama juga menyebut Galiau Watang Lema atau daerah-daerah pesisir pantai kepulauan. Galiau yang terdiri dari 5 kerajaan, yaitu Kui dan Bunga Bali di Alor serta Blagar, Pandai dan Baranua di Pantar. Aliansi 5 kerajaan di pesisir pantai ini diyakini memiliki hubungan dekat antara satu dengan lainnya. Bahkan raja-raja mereka mengaku memiliki leluhur yang sama.

Pendiri ke 5 kerajaan daerah pantai tersebut adalah 5 Putra Mau Wolang dari Majapahit dan mereka dibesarkan di Pandai. Yang tertua diantara mereka memerintah daerah tersebut. Mereka juga memiliki hubungan dagang, bahkan hubungan darah dengan aliansi serupa yang terbentang dari Solor sampai Lembata. Jalur perdagangan yang dibangun tidak hanya diantara mereka tetapi juga sampai ke Sulawesi, bahkan ada yang menyebutkan bahwa kepulauan kecil di Australia bagian utara adalah milik jalur perdagangan ini. Mungkin karena itulah, beberapa waktu lalu sejumlah pemuda dari Alor Pantar melakukan pelayaran ke pulau Pasir di Australia bagian utara. Laporan pertama orang-orang asing tentang Alor bertanggal 8 – 25 Januari 1522, Pigafetta, seorang penulis bersama awak armada Victoria sempat berlabuh di pantai Pureman, Kecamatan Alor Barat Daya. Ketika itu mereka dalam perjalanan pulang ke Eropa setelah berlayar keliling dunia dan setelah Magelhaen, pemimpin armada Victoria mati terbunuh di Philipina. Pigafetta juga menyebut Galiau dalam buku hariannya. Observasinya yang keliru adalah penduduk pulau Alor memiliki telinga lebar yang dapat dilipat untuk dijadikan bantal sewaktu tidur. Pigafetta jelas telah salah melihat payung tradisional orang Alor yang terbuat dari anyaman daun pandan. Payung ini dipakai untuk melindungi tubuh sewaktu hujan.

Dengan Perjanjian Lisabon pada tahun 1851, kepulauan Alor diserahkan kepada Belanda dan pulau Atauru diserahkan kepada Portugis. Orang-orang Portugis sendiri sebenarnya tidak pernah benar-benar menduduki Alor, walaupun masih ada sisa-sisa dari zaman Portugis seperti sebuah jangkar besar di Alor Kecil. Pada tahun 1911, Pemerintah colonial Belanda memindahkan pelabuhan laut utama dan pusat Pemerintahan Alor dari Alor Kecil ke Kalabahi. Kalabahi dipilih karena datarannya lebih luas dan lautnya lebih teduh. Kota Kalabahi artinya pohon kusambi, yang mana dulunya memang menghutani dataran ini. Dengan pemindahan pusat kekuasaan ke Kalabahi, Pemerintah colonial Belanda menempatkan Mr. Bouman sebagai Kontroler pertama di Alor. Sebelumnya tanda kehadiran colonial belanda di Alor, hanya terdiri dari seorang penjaga pos dan seorang serdadu berpangkat letnan.

Pada masa kontroler Bouman, beberapa pegawai pemerintah Belanda didatangkan. Upaya-upaya mengkristenkan para penganut animismepun mulai dilakukan. Baptisan pertama dilakukan pada tahun 1908 di pantai Dulolong, ketika seorang Pandeta berkebangsaan Jerman, D. S. William Bach tiba dengan sebuah kapal Belanda bernama Canokus, yang oleh orang Alor di zaman itu disebut dengan Kapal Putih. Diantara mereka yang dibaptis terdapat Lambertus Moata dan Umar Watang Nampira, seorang penganut Islam yang taat. Lambertus Moata kemudian menjadi Pendeta Pribumi Alor yang pertama, sedangkan Umar Watang Nampira barangkali bersedia dibaptis untuk menghormati para pengunjung pada saat itu. Gereja pertama yang dibangun adalah Gereja Kalabahi (sekarang Gereja Pola). Gereja ini dibangun pada tahun 1912. Kayu-kayunya didatangkan dari Kalimantan sedangkan pekerjanya adalah Pak Kamis dan Pak Jawas yang beragama Muslim. Oleh karena itu sampai saat ini masih merupakan sesuatu yang umum dilakukan di Alor bahwa pembangunan Gereja dilakukan oleh orang Muslim dan Mesjid dilakukan oleh orang Kristen. Pada masa ini Alor terdiri dari 5 kerajaan, yaitu Kui, Batulolong, Kolana, Baranusa dan Alor. Kerajaan Alor wilayahnya meliputi seluruh jasirah Kabola (bagian utara pulau Alor).

Pada tahun 1912 terjadi pengalihan kekuasaan raja dari dinasti Tulimau di Alor Besar kepada dinasti Nampira di Dulolong. Pemerintah colonial Belanda lebih cenderung memilih Nampira Bukang menjadi raja Alor sebab beliau berpendidikan dan fasih berbahasa belanda. Sebagai kompensasi, putra mahkota Tulimau ditunjuk sebagai kapitan Lembur. Pengalihan kekuasaan ini menyebabkan terjadinya beberapa pemberontakan namun dapat diredam dengan bantuan Belanda, sehingga sehingga secara tidak langsung pengalihan kekuasaan ini telah menjadi bibit salah satu lembaran hitam sejarah Alor dengan terbunuhnya Bala Nampira.

Pada 1915 s/d 1918, Bala Nampira menjadi raja menggantikan ayahnya dan Pada 1918, beliau mati terbunuh di Atengmelang. Penyebab terbunuhnya Raja ini masih diperdebatkan sampai saat ini dan kadang-kadang dapat membangkitkan amarah diantara sesame orang Alor.
Diyakini bahwa anggota-anggota Galiau Watang Lema menganggap pergantian raja sebagai sebuah pelanggaran yang amat berat dalam aliansi mereka oleh karena sekutu dan saudara mereka telah dipermalukan. Sementara itu, di Abui timbul rasa tidak puas dikalanga bangsawan oleh karena mereka diharuskan takluk kepada Pemerintahan Raja Nampira. Beberapa anggota Galiau Watang Lema yang tidak puas dengan pengalihan kekuasaan raja itu menjanjikan sebuah Moko yang bernilai tinggi kepada seorang wanita dari Manet bernama Malailehi apabila dapat membunuh Raja Nampira. Dengan cara ini mereka berniat mengembalikan takhta Bungan Bali ke Alor Besar.

Untuk memulihkan Hukum dan Pemerintahannya di Alor, maka Pemerintah Kolonial Belanda, melalui kontroler Mr. Muller menggunakan strategi yang ampuh, yaitu dengan mengawinkan Putra Nampira dengan Putri Bunga Bali dan berhasil dengan baik karena perdamaianpun tercipta pada saat itu. Pada tahun 1930 an, Pemerintah Kolonial Belanda mulai melakukan pembangunan wilayah. Para isteri pegawai Pemerintah dikirim ke Alor. Kerja sama dengan 5 kerajaan relative baik. Sepanjang jalan utama di tengah kota, rumah-rumah pegawai Pemerintah Kolonial dibangun. Beberapa diantaranya masih dipakai hingga kini. Jalan-jalan dibangun kesegala arah, bahkan saluran airpun dibangun, namun hanya untuk kebutuhan Rumah Sakit dan Pegawai Kolonial Belanda.

Setelah sempat dijajah Jepang dalam Perang Dunia II, kemerdekaan Indonesiapun diproklamirkan. Walau demikian di Alor masih terdapat orang asing. Pada tahun 1950-an dan 1960-an, sejumlah orang anti wajib militer dan misioneris dating ke Alor dan bekerja sebagai Pendeta, Perawat bahkan Dokter. Diantara mereka terdapat suami-isteri Dokter De Jong yang bekerja di Rumah Sakit Umum Kalabahi. Dalam bukunya “Brieven aan Alor” (Surat-surat ke Alor), Dokter De Jong menceritrakan tentang pengalamannya bekerja di Alor. Menurut ceritra orang Alor, ada salah satu Dokter dari Jerman, Dokter Kleven memberi nama Loni kepada Putrinya sesuai kata “Balalonikai” dalam sebuah lagu lego-lego yang terkenal yaitu “Lendolo”.
Last Updated ( Tuesday, 18 January 2011 )