KUNJUNGAN KETUA DPD RI DI KERAJAAN KUI

dpd

KUNJUNGAN KETUA DPD RI DI KERAJAAN KUI

Ir. H. La Nyalla Mahmud Mattalitti, Ketua DPD RI dalam kunjungannya di Kecamatan Alor Barat Daya tanggal 2 Juni 2022 didampingi Bupati Alor, Drs. Amon Djobo dan Wakil Bupati Alor.

Ketua DPD RI H. La Nyalla yang juga adalah Pengusaha Indonesia ini, mengunjungi istana Raja Kui yang berada di Moru Kecamatan Alor Barat Daya. Masyarakat setempat sangat antusias menyambut Ketua DPD RI bersama rombongan begitu tiba diberanda depan pintu masuk istana Kui dan dijemput secara adatiah oleh masyarakat Moru dengan tarian perang cakalele, khas Alor. Walau diguyur hujan namun tidak menyurutkan antusias masyarakat yang ingin menyambutnya, karena merupakan pertama kalinya orang nomor satu DPD RI berkunkung ke Istana raja Kui.

Nampak diistana Raja Kui kedua Nasrudin Kinanggi dan bersama ketiga anggota keluarga serta perwakilan empat suku yakni, Kapitan Mataru diwakili oleh Aser Laupada, Kapitan Lerebaing diwakili oleh Abdul Rahman Kaipes, Kapitan Probur diwakili Thomas Loban, Kapitan Kotabaru Moru diwakili Beti Adang bersama sejumlah undangan menerima kedatangan Ketua DPD RI La Nyalla Mahmud Mattalitti bersama rombongan.

Setiba di dalam istana Raja Kui, La Nyalla Mahmud Mattalitti langsung menuju ke kamar Raja Kui Pertama, berdoa secara khusuk didampingi Bupati dan Wakil Bupati Alor.

Acara dilanjutkan dengan Penobatan Ketua DPD RI sebagai salah satu Tokoh dalam keluarga Kui yang ditandai dengan penyematan Pakaian Adat Kerjaan Kui Oleh Raja Ketiga, dengan ditandai ucapan selamat datang dan beberpa petuah.

Dalam sekapur sirih oleh Raja Kedua Kerajaan Kui, Nassarudin Kinanggi antara lain mengatakan terima kasih kepada Pemerintah yang masih memberikan perhatian kepada masyarakat di wilayah kerajaannya melalui kunjungan tersebut.

Nasrudin Kinanggi juga menyampaikan peradaban sejarah Kui, dimana Portugis menduduki Kerajaan Kui sampai pada abad ke-18 atau sekitar tahun 1851, hingga menyerahkan daerah kekuasaannya kepada Belanda. Mulai dari situlah struktur kerjaan Kui dan ikutannya seperti nama-nama raja ditata secara baik.

Dituturkan, dimasa Portugis hanya satu nama Raja yang terkenal kepemimpinan dan ketenarannya, yaitu Raja Atamalei Kinanggi sekitar tahun 1632, dan masuknya agama islam di kerajaan Kui yang dibawa oleh Sultan Ternate bernama Cimales Gogo, yang dimasa itu hampir semua dikerajaan Kui menyembah berhala dan akhirnya raja tertarik dan menjadi seorang muslim dan diikuti oleh lainnya.

Nasarudin juga menyampaikan rasa terima kasih kepada Pemerintah Daerah dalam hal ini Bupati Alor, yang hingga saat ini masih memberikan sentuhan dan perhatian besar bagi Kerajaan Kui seperti yang tergambar juga dalam satu abad Injil masuk Mataraben dan pada kenyataan ini hadir ketua DPD RI, begitu juga Gubernur NTT, Viktor Laiskodat ditandai dengan Prasasti Penetapan Kerajaan Kedua di Kotabaru Moru, yang pertama berada di Lerebaing yang hancur akibat perang kedua dan tersisa hanyalah Masjid Tua Lerebaing.

Dalam perjalanannya mendapat penetapan sebagai situs oleh Pemerintah Daerah melalui sentuhan dan dukungan untuk menjaga masjid itu.

Nasarudin Kinanggi berharap kepada Bupati Alor dan Ketua DPD RI, bahwa walaupun sudah diresmikan oleh Gubernur namun secara formal perlu juga ditetapkan sebagai situs bersejarah dan bisa menjadi catatan khusus ketika ketua DPD RI kembali keJakarta, dan mudah-mudahan dalam Rancangan Pembahasan Undang-Undang, Kerajaan yang menurut Raja Kedua Kui ini mungkin sementra dibahas ditingkat Pusat dan dengan kehadiran Ir. H. La Nyalla Mahmud Mattalitti bisa mempercepat proses Undang-undang kerajaan tersebut. (bns,misi).

Leave a comment

Make sure you enter the (*) required information where indicated. HTML code is not allowed.