BANDARA PANTAR DI KABIR DISEPAKATI

BANDARA PANTAR DI KABIR DISEPAKATI

Bupati Djobo: “Pilih Antara Dua Nama Orang atau Nama Tempat.”

AIKOLI, Si Pers—Pada hari ini, Senin (29/6) sebuah sejarah baru bagi masyarakat Pulau Pantar, yang terdiri dari 5 kecamatan. Pasalnya? Ada sebuah langkah maju dalam proses pembangunan Bandara Udara Kabir yang telah dibangun sejak 2014 lalu, yakni: masuk pada tahapan usulan pemberian nama Bandara. Untuk itu, Pemerintah Kabupaten Alor mengundang para tokoh simpul dari Pulau Pantar maupun yang berada di Kota Kalabahi dan sekitarnya, termasuk kalangan muda atau Ikatan Mahasiswa Pantar untuk berdiskusi memberikan nama dan hal-hal terkait lainnya.

Bupati Alor, Drs. Amon Djobo dalam arahan singkat sebelum melepas forum untuk bermusyawarah mengatakan, bahwa pemerintah dalam mendukung proses Pantar menjadi daerah otonomi baru dengan membangun sejumlah sarana dan fasilitas umum, termasuk Bandara Kabir yang sedang dibangun dan sebelum diresmikan pada 2020 ini, Pemerintah Pusat melalui Kementrian Perhubungan memberikan kewenangan daerah memberikan nama yang pasti agar dapat ditindaklanjuti dengan Surat Keputusan dan selanjutnya juga akan ditetapkan dalam Peraturan Daerah bersama DPRD Alor.

Untuk itu, Bupati Dua Periode ini meminta agar focus pembahasan pada dua hal, yakni: nama Bandara dengan merujuk pada nama seseorang atau pahlawan dan kedua pada nama tempat. Bupati Djobo juga meminta agar dibahas secara baik dan tidak berlarut-larut karera tahapan proses masih berlanjut ke tingkat Provinsi NTT dan Pemerintah Pusat.

Selesai memberikan arahan di Restoran Panggung Aikoli Kang Resort, rapat dilanjutkan oleh Asisten Pemerintahan dan Kesra Setda Alor, Fredrik I. Lahal, SH dengan membuka babak diskusi lima orang kesempatan berbicara.

Dari ke lima orang pembicara yang berasal dari sesepuh daerah, camat, tokoh masyarakat pantar dan Kepala Unit Bandara Kabir tersebut merujuk pada dua nama tempat, masing-masing: Bandara Kabir dan Bandara Panea.

Setelah berurung rembuk dengan berbagai latar belakang alasan pemikiran yang sedikit tegang, maka dibuka kesempatan babak kedua dengan beberapa orang, termasuk Kepala Bagian Hukum Setda Alor, Marianus Adang, SH dan Camat Pantar Tengah, Manoak Boling Sau, ST dengan merujuk pada Peraturan Menteri Perhubungan, di mana pada hakikatnya pada awal Bandara didirikan sejauh mungkin menggunakan nama tempat. Kemudian apabila berada pada wilayah desa/ kelurahan, maka nama kecamatan yang digunakan. Demikina juga bila berdasarkan pada dua wilayah kecamatan, maka nama kabupaten yang digunakan.

Akhirnya, secara aklamasi semua peserta menyetujui bahwa Nama Bandara Kabir yang selama proses pembangunannya digunakan secara administrative diganti menjadi Bandar Udara (Bandara) Pantar di Kabir.

Forum pun terasa legah (cool down) atas penyataan bersama tanpa sebuah interupsi apalagi amandemen untuk ditindaklanjuti oleh Pihak Pemerintah Kabuten Alor ke jenjang persiapan selanjutnya.  

(TIM PROKOMP SETDA ALOR)

Leave a comment

Make sure you enter the (*) required information where indicated. HTML code is not allowed.